Showing posts with label KISAH ISLAMI DAN KISAH PARA WALI.. Show all posts
Showing posts with label KISAH ISLAMI DAN KISAH PARA WALI.. Show all posts

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN



Apa saja keutamaan bulan Ramadhan?

Mari luangkan sedikit waktu untuk membaca dan menyimak postingan ini dengan memohon kepada Allah agar senantiasa diberikan pemahaman dan kebeningan hati supaya Kita mampu memetik hikmah dari apa yang Kita baca.



Allah berfirman dalam QS -  Al- Baqarah  ayat 183 yang terjemahaan nya sbb:

" Wahai orang-orang yang beriman ,diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu ...... "

Sa'id bin Jabir .ra berkata; "puasa orang-orang sebelum kita adalah mulai dari ataman (sepertiga malam yang pertama) sampai kepada malam berikutnya , sebagaimana yang telah terjadi pada permulaan Islam.

"segolongan Ulama berkata,"puasa itu merupakan kewajiban atas orang-orang Nasrani.

Lalu puasa itu sering terjadi pada musim yang sangat panas dan musim yang terlaulu dingin.

Puasa itu terasa sangat memberatkan mereka pada saat mereka mengadakan perjalanan dan sebahagian kehidupan.

Lalu pemimpin- pemimpin mereka  sepakat untuk menjadikan puasa pada suatu musim dalam setahun,yaitu antara musim penghujan dan kemarau.

Maka mereka menentukan pada musim bunga dan menambahkkan puasa sepuluh hari lagi sebagai penutup terhadap apa yang mereka perbuat.

Kemudia ada seorang raja yanng menambahkan puasa seminggu lagi kalau Dia sembuh dari sakitnya.

Kebetulan raja itu benaran sembuh dari sakitnya, sehingga Dia betul-betul menambahkan puasa seminggu lagi.

Setelah raja itu meninggal dan digantikan oleh raja yang lain,Dia berkata: "sempurnakanlah ia menjadi 50 hari"  kemudian mereka di timpa kematian,yaitu kematian ternak yang merajalela.

Lalu raja berkata kepada mereka, " tambahkanlah puasamu" lalu mereka menambah sepuluh hari,bahkan mereka menambah sepuluh hari setelah itu.

Dikatakan pula," Tidak ada sebuah umatpun melainkan mereka diwajibkan puasa Ramadhan.
Hanya saja ,mereka kemudian tersesat(menjadi lupa)dari puasa Ramadhan itu".

Al-Baghawi berkata " yang sahih bahwa Ramadhan adalah nama sebuah bulan dari kata "Ramdha" yaitu batu yang dipanaskan(dibakar), karena mereka telah berpuasa dalam waktu panas yang memuncak.

Sebab ketika orang arab ingin meletakkan nama-nama bulan,bertepatan sekali , bahwa bulan itu ada pada musim panas yang dahsyat.

Maka dikatakan atau disebut begitu karena membakar beberapa dosa.
Dan diwajibkan pada tahun kedua Hijrah.

Beberapa hadist menjelaskan keutamaan bulan puasa ini, salah satunya sabda Nabi Muhammad Saw " Apabila datang malam pertama dari bulan Ramadhan, semua pintu pintu surga dibuka,tidak ditutup satu pun selama satu bulan penuh". Dan Allah swt ,memerintahkan malaikat penyeru untuk menganjurkan,
"wahai orang yang mencari kebaikan, menghadaplah", wahai orang yang mencari kejahatan bertahanlah.

Lalu Dia berkata:

  • Adakah seorang yang memohon ampun ,tentu dia diampuni
  • Adakah orang yang meminta, tentu akan dituruti permintaannya
  • Adakah orang yang bertaubat, tentu Ia akan diterima taubatnya.
Dia tidak henti-hentinya berkata begitu sampai fajar memancar.

Setiap malam hari raya fitrah Allah akan membebaskan sejuta orang dari neraka yang sebelumnya telah berhak disiksa.

Salman al farisi. ra ;
Rasulullah saw , telah berkhutbah kepada Kami pada hari terakhir bulan sya'ban,
"Wahai sekalian manusia,benar-benar telah menaungimu sebuah bulan yang besar" didalamnya terdapat malam lailatul qadar yang lebih utama daripada seribu bulan.

Allah menjadikan puasanya menjadi fardhu dan beribadah (mendirikan sholat) pada malamnya sebagai sunat.

Barang siapa mendekatkan diri dengan kebaikan pada bulan itu , maka dia seperti orang yang menunaikan kewajiban pada waktu lain.

Barang siapa yang menunaikan sebuah fardhu,maka dia seperti orang yang menunaikan tujuh puluh kewajiban pada waktu yang lain.

Dia adalah bulan kesabaran ,sedangkankan kesabaran pahalanya adalah surga
Dia adalah bulan pertolongan
Dia adalah bulan penambahan rezeki seorang mukmin.

Barang siapa yang memberi buka pada seorang yang berpuasa,maka bagi dia pahalanya sama dengan memerdekakan budak yang telah terampuni dosa-dosanya.

Lalu Kami berkata,
"ya Rasulullah ,kami ini tidak menemukan sesuatu yang dapat digunakan memberi buka pada orang yang berpuasa"

Kemudian Beliau bersabda,
"Allah memberikan pahala pada orang yang memberikan buka pada orang berpuasa secicipan susu, seteguk air, atau sebutir kurma.

Dan barang siapa yang membuat kenyang orang  berpuasa maka  akan diampuni dosa-dosanya dan Tuhan akan memberikan minuman dari telagaku, dimana dia tidak akan merasa haus setelah itu untuk selama-lamanya.

Disamping itu dia mendapatkan pahala semisal pahala orang yang berpuasa tanpa berkurang sedikitpun.

Awal bulan itu penuh dengan rahmat, pertengahan penuh ampunan dan terakhir pembebasan dari neraka.

Dan barang siapa memberi keringanan pada budak yang dimilikinya , maka Allah akan memerdekakannya dari neraka.

Dengan demikian,maka perbanyaklah  dari empat hal;
dua hal kamu akan membuat ridho pada Tuhanmu,dan dua hal lagi kamu selalu membutuhkannya.

Dua hal yang pertama adalah;

  • Kesaksian bahwa tiada Tuhan kecuali Allah
  • Dan kamu memohon ampun kepadanya.
Dua hal yang kedua adalah;

  • Kamu meminta surga kepada Allah
  • Dan berlindung kepadanya dari neraka.
Diantara hadist yang menerangkan keutamaanya lagi adalah, sabda Nabi Muhammad Saw;

  • "Barangsiapa yang berpuasa di bulan ramadhan dengan Iman dan mencari pahala,maka dosanya yang lalu dan yang akan datang akan diampuni".
  • "Setiap amal anak cucu Adam adalah baginya,kecuali puasa,maka sesungguhnya puasa itu adalah milikKu dan Aku akan membalasnya."
  • "Umatku diberi lima hal yang tidak pernah diberikan pada umat manapun sebelum mereka"
Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi ALLAH daripada wangi misik,
Malaikat-malaikat memohonkan ampun untuk mereka hingga berbuka, setan setan yang keterlaluan dibelenggu,
Allah swt menghias surga setiap hari ,setiap orang yang beramal akan di penuhi pahalanya apabila dia telah menyempurnakan amalannya.



Wallahu a'lam bisowab...







Sumber:

Kisah ini Kami kutip dari kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Al Ghazali
yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Mahfudli Sahli
dengan judul " Dibalik ketajaman mata hati" Penerbit Pustaka Amani-jkt.
Bab 41 tentang keutamaan bulan ramadhan yang agung (hal 485-488).


Catatan Blogger:
Semoga postingan ini ada manfaatnya buat Anda dan buat Saya pribadi.
Mohon tinggalkan koment sebagai masukan buat kami, akhirnya demikian dulu dan salam santun dari saya.

Haeruddin Purnawanto.










WALI ALLAH YANG DISELAMATKAN oleh KOTORAN NYA.

Dikisahkan kembali oleh: Haeruddin Purnawanto.

Dikisahkan bahwa ada seorang wali Allah yang begitu alim,taat dan sangat senang menuntut ilmu Allah.
Meskipun Dia setara wali tapi tetap saja Dia merasa ilmunya masih sangat dangkal sehingga Dia setiap hari terus bolak balik ke masjid mengikuti pengajian dan terus belajar dari ustazd dan Kiai begitulah rutinitasnya .

Dia merasa masih banyak sekali ilmu yang belum diketahuinya,begitu kerdilnya diri Dia dihadapan Allah.
Semakin banyak yang Dia pelajari,maka semakin bertambah pula yang belum Dia ketahui ,begitu seterusnya.

Hampir 70 tahun Dia melakukan ibadah dengan ketaatan kepada Allah aza wajallah.
Sampai disuatu hari Allah memberikan ujian kepadanya yaitu satu ujian yang luar biasa dan pernah Dia temukan sebelumnya.
Dimana keteguhan iman nya benar -benar diuji oleh Allah Subhana Wataala.

Pada saat  berjalan menuju masjid seperti biasanya,Dia bertemu dengan seorang wanita,lalu wanita itu memanggilnya.

Siwanita itu mengatakan kepada wali Allah ( Abid) bahwa dirumahnya ada barang yang ingin diangkatnya tapi siwanita tersebut tidak kuat mengangkatnya sendiri,maka  siwanita itu meminta kesudihan hati si Abid agar kiranya mau membantunya.

Yah,,, yang namanya si Abid orang baik,sudah pasti Dia menyanggupi untuk membantu siwanita tersebut dengan senang hati,sambil berucap Insya Allah saya akan menolong semampunya.

Lalu wanita tersebut mengajak si Abid ke rumahnya dan begitu sampai dirumah wanita tersebut, si Abid dipersilahkan masuk dan siwanita mengikutinya dari belakang sambil menutup pintu rapat-rapat lalu dikunci dan kuncinya dia selipkan di dalam dadanya, si Abid melongo melihat pintu yang terkunci.

Kenapa pintunya harus dikunci? begitu tanya si Abid pada wanita itu, dan wanita hanya tersenyum sekilas lalu berucap," sebenarnya tiada barang yang perlu diangkat, tapi cukup kamu angkat saya saja dan marilah Kita bersenang-senang karena hanya Kita berdua di dalam rumah ini, begitu rayu si wanita tersebut.

Kemudian wanita itu menanggalkan satu persatu pakaiannya sampai tak tersisa sehelai kainpun ditubuhnya,lalu wanita itu berkata:

"Wahai Abid kemarilah kau setubuhi Aku kemudian Kau pulang kerumahmu dan bertaubat,Allah kan maha pengampun dan peneerima taubat" begitulah godaan dan tipu daya syaitan yang menjelma dalam diri wanita tersebut.

Wali Allah (Abid) sangat terkejut dan dalam hatinya berdoa" Yaa Allah andai Engkau menerima ibadahku yang hampir 70 tahun ini, mohon selamatkanlah Aku dari dosa ini yaa Allah.

Tiba-tiba ada suara ghoib menyapa,suara ini tentunnya hanya didengar oleh hati yang suci bersih saja , bukan pada hati yang kotor penuh noda.

"Wahai Abid, andai engkau ingin selamat dari wanita ini maka pergilah Engkau ke wc rumahnya" begitu suara yang didengar oleh Abid dari dalam hatinya.
karena si Abid yakin itu pertolongan Allah,maka si Abid lantas mengajukan syarat kepada wanita itu, "Aku mau berzina denganmu tapi izinkan Aku kebelakanng dulu untuk melepaskan hajat dulu" lalu disetujui dan dipersilahkan oleh wanita itu.

Si Abidpun berserah kepada Allah agar selamat dari Fitnah ini, kemudian si Abid bergegas kebelakang dan langsung masuk WC dalam keadaan resah dan menggigil ketakutan.

Setelah sudah membuang hajatnya,suara ghaib itu hadir lagi,dalam hati si Abid berdoa lagi, " yaa Allah andai Engkau menerima ibadahku selama ini,mohon selamatkanlah Aku dari dosa ini yaa Allah"

Lalu suara ghaib itu terdengar lagi:
"wahai Abid jika Kamu ingin selamat dari wanita itu,ambillah najis yang ada dilobang WC itu,kemudian lumurilah badanmu kemudian kembalilah pada wanita itu"

Si Abid dengan penuh ketaatan ,mengikuti apa yag dikehendaki oleh suara ghaib itu,setelah itu keluarlahlah dia dari WC dan menghampiri wanita itu yang telah menunggunya dari tadi.


Lalu apa yang terjadi?

Wanita itu berteriak sambil menutup hidungnya ,busuk sekali Kau Abid Aku mengajakmu bersetubuh tapi kenapa kau lumuri badanmu dengan kotoran seperti itu? Cepat keluar Kau dari sini bentak wanita itu.


Wali Allah itupun segera keluar dan bersyukur kepada Allah yang telah menyelamatkan dirinya sehingga Dia bisa lolos dari godaan dan ujian ini.

Wali Allah itu kemudian melangkahkan kakinya menelusuri jalan menuju sungai untuk membersihkan diri lalu melanjutkan perjalanannya menuju masjid guna mengikuti pengajian seperti biasanya.

Karena datangnya  agak telat terpaksa Dia duduk di barisan paling belakang karena tempatnya sudah ditempati orang lain padahal biasanya Dia duduk di barisan paling depan untuk mendengarkan pengajian dari kiainya.

Sementara sedang asyiknya sang kiai menyampaikan pengajiannya kepada santrinya,tiba-tiba sang kiai menghentikan pengajiannya,karena beliau mencium sesuatu bau yang mengundang perhatiannya,lalu beliau bertanya kepada semua santrinya.

Siapa diantara kalian yang berbau? pertanyaan itu dilontarkan berulang kali oleh sang Kiai.
"Akulah insan yang berbau itu" jawab walli Allah itu meskipun cuma dibisikan dalam hatinya.
Dia tidak mampu untuk mengangkat tangannya,karena Dia merasa tadi telah melumuri badannya dengan kotoran namun Dia tak mampu untuk mengatakannya.

Baik jika tak ada yang mau mengaku ,biarlah Aku yang mencium satu persatu begitu kata sang Kiai,lantas sang Kiai bangun dan berjalan mendekati santrinya sambil mencium satu persatu mulai dari barisan paling depan terus kebelakang tapi sang Kiai belum menemukan juga hingga sampai kepada giliran wali Allah yang duduk paling belakang ,sang Kiai mencium lalu bertanya, "wahai Abid dari manakah Kau peroleh bau ini?" pertanyaan ini berulang kali ditanyakan oleh sang Kiai.

Akhirnya si Abid menjawab dan mengatakan bahwa Dia telah melumuri badannya dengan kotoran tapi sebelum Dia ketempat ini tadi Dia sudah membersihkan diri di sungai.

"Ketahuilah olehmu wahai Abid,bau wangian ini adalah bau wangian para Nabi dan rosul di Syurga,Engkau sudah memperolehnya wahai kekasih Allah,begitu kata sang Kiai" yang juga merupakan wali Allah dan memang ada hubungan rasa antara wali Allah yang satu dengan wali Allah yang lain. 


"Wahai Abid mulai saat ini Engkaulah yang lebih pantas mengajar ditempat ini" begitu selanjutnya kata sang Kiai.



Maka mulai saat itu si Abid yang menjadi pengajar di tempat tersebut,sebab Allah telah mengangkat derajatnya oleh karna kesucian hatinya.


Demikianlah kisah singkat ini semoga ada manfaatnya buat Kita.



Catatan blogger:

  • Kita terkadang harus rela mengotori tubuh Kita demi untuk menjaga kebesihan dan kesucian hati Kita.
  • Salam santun dari Blogger.

LELAKI YANG DIRINDUKAN PARA BIDADARI

Assalamualaikum warahmatullahi wabbarakatuh




Apa kabar Anda semua?
Semoga Anda semua pemirsa blog ini dalam keadaan sehat wal,afiat ... Aamiin Yaa Robbal Alaamiin.
Mari kita coba membaca dan menyimak sebuah kisah dibawah ini...!
Semoga ada hikmah yang bisa kita petik , Insya Allah.







Bismillahirrahmaanirrahiim

Dalam sebuah kisah dikisahkan...
Pada waktu itu ,Di Madinah tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid.
DIa dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat,dan dia juga termasuk orang yang rajin dan taat dalam hal ibadah.
Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan.

Maka sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan salah satu sunnah Rasul yaitu menikah.
Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.
Lalu para sahabat menyarankan kepada nya untuk mencoba menemui langsung Baginda Nabi, dengan harapan mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

Zulebid pun kemudian datang menemui Baginda Nabi dan mengutarakan isi hatinya.

Baginda Nabi pun tersenyum lalu beliau berkata:
"Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan...?"

Zulebid pun langsung menjawab:
"Seandainya itu adalah saran darimu Yaa Rasulullah, maka saya akan terima".

Tapi bukankah Putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, juga hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun...?

Kemudian Baginda Nabi berkata:
"Katakanlah aku yang mengutusmu"

Lalu Zulebid menjawab:
"Baiklah ya Rasul", dan Zulebid pun segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.

Sesampainya di rumah si Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh si Fulan
Dan si Fulan pun bertanya:
"Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?"

"Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si fulana"
Jawab Zulebid sedikit agak gugup.

"Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku." 
Si Fulan menemui putrinya dan bertanya, "bagaimana pendapatmu wahai putriku?"

Putrinya menjawab:
"Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw,
maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.

"Akhirnya pagi itu juga,pernikahanpun diselenggarakan dengan sederhana.
Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.

Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,,,
"Duhai dirimu yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari,
apakah ini yang engkau idamkan selama ini...? 
Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?" 

Kemudian Jawab istrinya, 
" Engkau adalah lelaki pilihan Rasul yang datang meminangku,
tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku,
tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin."

Zulebid tersenyum, dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk.
Segera ia bangkit dan membuka pintu. 

Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid,yaitu panggilan berjihad dalam perang.

Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.
lalu Zulebid berkata pada istrinya, Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku,demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu.

Namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu,Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang.
Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.

Istrinya menyahut, "Pergilah wahai suamiku,betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu,namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu,Doa dan ridhoku menyertaimu"


Singkat cerita...

Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang.
Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya.
Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid...

Sampai ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya.
Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara.
Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya.
Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. 

Terbayang wajah kedua orang tuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya.
Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati,
dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya.
Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan.
Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya.
Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. 
Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya....Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.

INNALILLAHI WA INNAILAIHI ROJIUN.

=======================================

Senja datang...
Angin mendesau, sepi...
Pasir-pasir beterbangan...
Berputar-putar...

Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang tersebut. 
Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh.
Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.
Tanpa dimandikan, tanpa dikafankan...

Hingga tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.
Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu.

Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. 
Air mata berlinang dari pelupuk mata beliau. 
Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum.
Wajah beliau berubah menjadi cerah. 

Belum hilang keheranan shahabat, 
tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan 
menghalangi arah pandangan mata beliau.

Sampai akhirnya keadaan kembali seperti semula.
Para sahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.

"Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis...?"
Jawab Rasul, 
"Aku menangis karena mengingat Zulebid.
Oowh..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga.
Ini hari bahagia, Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf,
malam yang ditunggu oleh para pengantin."

"Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?" Tanya sahabat lagi.
" Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak 
dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid," Jawab Rasulullah.
"Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?" Tanya mereka lagi.
"Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid,
beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid.
Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya...."
untuk itulah aku memalingkan wajahku.

=======================================

Sementara di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali.
Dan terdengar kabar bahwa suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi,
Pencipta segala Maha Karya.

Malam menjelang...
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.
Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan.
Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.
Terdengar Zulebid berkata, "Istriku, aku baik-baik saja.
Aku menunggumu disini,Engkaulah bidadari sejatiku.
Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu.... "
Dan akan kubiarkan engkaulah bidadari yang tercantik di hatiku.

Istri Zulebid, terdiam.

Matanya basah...
Ada sesuatu yang menggenang disana,
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi.
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir.

Lalu Ia menggerakkan bibirnya,
"Wahai Suamiku, aku mencintaimu...
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita,Aku ikhlas.





=========000000000000=========





Catatan Blogger:

Keikhlasan menerima segala  ketentuan ALLAH
dan ketaatan pada Rasulullah, itulah yang tidak dimiliki
oleh semua orang kecuali orang-orang tertentu ,
salah satunya seperti Zulebid dan Istrinya.

Subhanallah ,,,,, 
Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang
diberikan kemampuan oleh Alllah untuk selalu taat dan Ikhlas. 

Aamiin... Yaa Robbal Alaamiin.

ASHABUL KAHFI.

"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung kedalam gua lalu mereka berdoa, "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." (QS al-Kahfi:10).

Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:

Dikala Umar bin Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah, "Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi.

"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan," sahut Khalifah Umar.

"Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?" Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. "Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) disaat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan dikala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda disaat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak diwaktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai disaat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?"

Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berpikir sejenak, kemudian berkata, "Bagi Umar, jika ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!''

Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata, "Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!"

Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: "Kalian tunggu sebentar!"

Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: "Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!"

Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: "Mengapa?"

Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar bin Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasulullah SAW. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkat,: "Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!"

Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata, "Silahkan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasulullah SAW sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!"

Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata, "Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!" "Ya baik!" jawab mereka.

"Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib.

Mereka mulai bertanya, "Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?"

"Induk kunci itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik laki-laki ataupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai kehadirat Allah!"

Para pendeta Yahudi bertanya lagi, "Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?"

Ali bin Abi Thalib menjawab, "Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah!"

Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata, "Orang itu benar juga!" Mereka bertanya lebih lanjut, "Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!"

"Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta," jawab Ali bin Abi Thalib. "Nabi Yunus AS dibawa keliling ketujuh samudera!"

Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi, "Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!"

Ali bin Abi Thalib menjawab, "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman AS putera Nabi Dawud AS, Semut itu berkata kepada kaumnya, 'Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!"

Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya, "Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan diatas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun diantara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!"

Ali bin Abi Thalib menjawab, "Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular)."

Dua diantara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan, "Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah!"

Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib, "Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda."

"Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan," sahut Imam Ali.

"Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?" Tanya pendeta tadi.

Ali bin Ali Thalib menjawab, "Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu."



Pendeta Yahudi itu menyahut, "Aku sudah banyak mendengar tentang Qur'an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!"

Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut kedepan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata, "Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasulullah SAW kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, disebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana."

Baru sampai disitu, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya, "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!"

Ali bin Abi Thalib menerangkan, "Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmer. Panjangnya satu farsakh (+/- 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Disebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Disebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala."

Sampai disitu pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata, "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?"

"Hai saudara Yahudi," kata Imam Ali menerangkan, "Mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri."

Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi, lalu berkata, "Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!"

Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab, "Kekasihku Muhammad Rasulullah SAW menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri disebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan.

Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung didalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.

Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung didalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.



Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai "tuhan" dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah SWT.

Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah SWT.

Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu kedalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan --seorang cerdas yang bernama Tamlikha-- memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh pikiran. Ia berpikir, lalu berkata di dalam hati, "Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan.

Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya, 'Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?'

'Teman-teman,' sahut Tamlikha, 'hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur.'

Teman-temannya mengejar, 'Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?'

'Sudah lama aku memikirkan soal langit,' ujar Tamlikha menjelaskan. 'Aku lalu bertanya pada diriku sendiri,'siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah? Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?' Kemudian kupikirkan juga bumi ini, 'Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?' Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri, 'Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius'…"

Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata, 'Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!'

'Saudara-saudara,' jawab Tamlikha, 'baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja Pencipta Langit dan Bumi!'

'Kami setuju dengan pendapatmu,' sahut teman-temannya.

Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.



Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya, 'Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar. Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.

Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya,'Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?'

'Aku mempunyai semua yang kalian inginkan,' sahut penggembala itu. 'Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!'

'Ah…, susahnya orang ini,' jawab mereka. 'Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?' 'Ya,' jawab penggembala itu.

Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata, 'Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian.'

Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya."

Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata, "Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?"

"Hai saudara Yahudi," kata Ali bin Abi Thalib, "Anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya, kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.

Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali, 'Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah SWT.'

Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua."

Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata, "Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?"

Imam Ali menjelaskan, "Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau disebut juga dengan nama Kheram!"

Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya, "Secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga duduk sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah SWT memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah SWT mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.

Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.

Kepada para pengikutnya ia berkata, 'Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!'

Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya, "Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu.,

Dalam gua tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.

Setelah masa yang amat panjang itu lewat, Allah SWT mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya, 'Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!'

Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah SWT membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya, 'Siapakah diantara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi.'

Tamlikha kemudian berkata, 'Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!'

Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan, 'Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah.'

Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri, 'Kusangka aku ini masih tidur!' Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja rot, 'Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?' 'Aphesus,' sahut penjual roti itu.

'Siapakah nama raja kalian?' tanya Tamlikha lagi. 'Abdurrahman,' jawab penjual roti.

'Kalau yang kau katakan itu benar,' kata Tamlikha, 'urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!'

Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat."

Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib, "Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru!"

Imam Ali menerangkan, "Uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!"

Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya, "Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha, 'Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!'

'Aku tidak menemukan harta karun,' sangkal Tamlikha. 'Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!'

Penjual roti itu marah. Lalu berkata, 'Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?'

Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berpikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha, 'Bagaimana cerita tentang orang ini?' 'Dia menemukan harta karun,' jawab orang-orang yang membawanya.

Kepada Tamlikha, Raja berkata, 'Engkau tak perlu takut! Nabi Isa AS memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat.'

Tamlikha menjawab, 'Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!'

Raja bertanya sambil keheran-heranan, 'Engkau penduduk kota ini?' 'Ya. Benar,' sahut Tamlikha.

'Adakah orang yang kau kenal?' tanya raja lagi. 'Ya, ada,' jawab Tamlikha.

'Coba sebutkan siapa namanya,' perintah raja. Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata. 'Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?'

'Ya, tuanku,' jawab Tamlikha. 'Utuslah seorang menyertai aku!'

Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan, 'Inilah rumahku!'

Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang, 'Kalian ada perlu apa?'

Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut, 'Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!'

Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya, 'Siapa namamu?' 'Aku Tamlikha anak Filistin!'



Orang tua itu lalu berkata, 'Coba ulangi lagi!' Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap. 'Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang diantara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka." Kemudian diteruskannya dengan suara haru, 'Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa AS, dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!'

Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian dilaporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya, 'Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?'

Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.

Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua," demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya.

"Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka, 'Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!'

Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata, 'Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!'

Tamlikha menukas, 'Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?'

'Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja,' jawab mereka.

'Tidak!' sangkal Tamlikha. 'Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!'

Teman-teman Tamlikha menyahut, 'Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?' 'Lantas apa yang kalian inginkan?' Tamlikha balik bertanya.

'Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga,' jawab mereka. Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa, 'Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!'

Allah SWT mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah SWT melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah SWT. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.

Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata, 'Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu.'

Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula, 'Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu.'

Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam."

Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, "Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?"

Pendeta Yahudi itu menjawab, "Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan umat ini!"

Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha 'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul SAW.


Sumber: 1001 Kisah Islami.

MANUSIA PENGHUNI LANGIT.


Assalamu'alaikum wr. wb.
Ketahuilah bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa ada seseorang yang akan menjadi penghuni langit. Siapakah beliau yang memiliki keistimewaan tersebut.
Karena begitu taat dan rasa sayangnya kepada ibundanya, laki-laki yang satu ini divonis oleh Utusan Allah SWT sebagai penghuni langitu sehingga banyak para sahabat yang meminta didoakan olehnya.
 

Dialah Uwais Al Qarni.
Beliau adalah seorang pemuda miskin yang tinggal di Yaman bersama ibunya yang sudah tua renta, lumpuh dan buta. Uwais tinggal dengan ibunya karena beliau tidak mempunyai lagi ahli keluarga. Beliau senantiasa merwat ibunya dengan penuh ketulusan dan kasih sayang serta mematuhi seluruh perintah ibunya.



Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, beliau bekerja menggembala kambing dan unta milik orang lain serta mendapatkan upah dari pekerjaan tersebut. Walaupun upah yang diterimanya hanya cukup untuk kebutuhan dirinya dan ibunya, namun ia tetap sabar dan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas apa yang dianugrahkan kepadanya.

Apabila beliau mendapatkan upah yang berlebih, ia tak lupa untuk berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu.


Merawat Ibunya


Uwais juga dikenal sebagai sosok yang ahli ibadah.
Dia selalu berpuasa di siang hari dan pada malam harinya ia selalu bermunajat kepada Allah SWT untuk memohon petunjuk dan beristighfar. Meski demikian, pemuda yang hidup semasa dengan Rasulullah SAW ini memiliki kecintaan yang sangat luar biasa kepada Rasulullah.

Ia selalu merasa bersedih hati jika mendengar orang-orang yang bercerita tentang pertemuan mereka dengan Baginda Rasul, karena memang dia belum pernah berjumpa sekalipun dengan Nabinya tersebut.

Rasa rindu Uwais untuk bertemu dengan Nabi Muhammad SAW semakin lama semakin dalam. Beliau ingin sekali memandang wajah Rasulullah SAW dari dekat serta ingin mendengar suaranya. Namun, kecintaannya kepada ibunya juga sangat luar biasa, ia merasa tidak tega untuk meninggalkan ibunyaq untuk bertemu dengan Nabi.

Di luar dugaan, si Ibu yang sebenarnya mengetahui cintanya kepada Baginda Nabi, tiba-tiba saja angkat bicara.
"Wahai Uwais anak ibu, Pergilah engkau menemui Rasulullah SAW di rumahnya. Setelah berjumpa, segeralah engkau pulang," kata Ibu Uwais.

Mendengar pernyataan ibunya tersebut, Uwais merasa sangat gembira luar biasa dan ia pun segera berkemas, mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Madinah menemui Rasulullah SAW. Namun, ia tak lupa menyiapkan segala keperluan ibunya selama ia pergi ke Madinah. Ia selalu berpesan kepada orang-orang terdekatnya agar menjenguk ibunya sepeninggal Uwais ke Madinah.


Menemui Rasulullah SAW


Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, Uwais pun akhirnya tiba di Madinah dan ia pun langsung menuju rumah Rasulullah SAW.
Selepas mengucapkan salam, pintu rumah Nabi pun terbuka, namun yang beliau temui hanya Aisyah, sedangkan Rasulullah SAW ketika itu sedang berada di medan perang.

Uwais pun langsung merasa kecewa karena ia ingin segera bertemu Nabi dan segera pulang sebagaiman pesan ibunya.
Akhirnya ia pun memilih untuk segera pulang dan menitipkan pesan untuk Nabi kepada Aisyah.

Setelah perang usai, Rasulullah SAW kembali pulang ke Madinah dan ia langsung bertanya kepada Aisyah mengenai orang yang mencari beliau.
Belum sempat Aisyah menjawab, Nabi pun bersabda,
"Uwais anak yang taat kepada ibunya, dia adalah penghuni langit."
Aisyah pun sangat kaget dengan penuturan Nabi, karena Rasulullah rupanya sudah mengetahui siapa tamu yang ingin bertemu dengannya jauh-jauh hari.

Para sahabat tertegun, kemudian Nabi Muhammad SAW meneruskan keterangannya mengenai Uwais yang menjadi salah satu orang yang menghuni langit kepada orang orang-orang yang hadir di situ.
Baginda Nabi bersabda,
"Jika kamu ingin erjumpa dengan dia, perhatikanlah dia memiliki tanda puith di telapak tangannya."

Nabi juga berpesan kepada para sahabat,
"Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mohonlah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi."

Selepas Rasulullah SAW wafat, Umar dan Ali ra akhirnya bisa berjumpa dengan Uwais. Kemudia mereka berdua memohon doa dan istighfar dari Uwais. Umar juga berjanji untuk menyumbangkan uang dari Baitul Mal kepada Uwais.
Namun dengan bijaksana Uwais berkata,
"Hamba mohon, supaya hari ini saja hamba diketahui oleh orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui oleh orang lagi."

Apakah Uwais adalah seorang Malaikat?
Ataukah beliau adalah Malaikat yang menyamar menjadi manusia untuk merawat seorang Ibu?
Apakah Uwais memang hanya manusia biasa?
Wallahu A'lam.

Karena Sabda Nabi, pasti benar adanya.
Uwais bukan orang bumi, dia penghuni langit. Selain itu, pertemuannya dengan Umar dan Ali juga menjadi tanya tanya besar karena pertemuan mereka disuruh untuk merahasikan dan Uwais tidak ingin dilihat orang setelah itu.
Subahanallah....

Semoga kisah sahabat Uwais ini bisa menjadi cambuk buat kita semua agar senantiasa berbakti kepada ibu, ibu yang melahirkan kita dengan susah payah.




Sumber:Kisah2 Islami.